Jathilan Manunggal Jati dan Haswo Cipto Kawedhar Kalibawang Tampil di Gelar Potensi Kantong Budaya

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Kulon Progo menyelenggarakan Gelar Potensi Desa Kantong Budaya, mulai tanggal 10 sampai dengan 22 Oktober 2020 di Taman Budaya Kulon Progo.

Kegiatan yang didukung oleh Dana Keistimewaan (Danais) ini turut menyemarakkan Hari Jadi ke-69 Kabupaten Kulon Progo, yang bersamaan dengan sewindu disahkannya Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam pelaksanaannya, karena masih di tengah pandemi Covid-19 pertunjukan dilakukan secara live streaming melalui channel Youtube Dinas Kebudayaan Kulon Progo.

Acara dengan tema “Pengemasan Seni Jathilan menjadi Pertunjukan Yang Menarik tanpa Meninggalkan Nilai-Nilai Tradisi”, diikuti sebanyak 52 desa kantong budaya se-Kabupaten Kulon Progo yang tampil secara bergantian.

Dua kontingen dari Kapanewon Kalibawang, kelompok jathilan Manunggal Jati Banjarasri dan Haswo Cipto Kawedhar Banjaroyo mendapat kesempatan tampil pada Rabu (14/10).

Kelompok Jathilan Manunggal Jati yang berasal dari Padukuhan Boro, Banjarasri Kalibawang menampilkan cerita Perang Pacang melawan Jipang.

Dalam sinopsisnya diceritakan persiapan yang sangat matang para prajurit Jipang dalam berlatih kanuragan, dengan pengawasan sang abdi Pentul dan Benjer.

“Luar biasa sekali kolaborasi antara gerak tari dan iringan, perpaduan yang luar biasa. Dibalut dengan kelakukan Pentul dan Benjer yang lucu, enerjik, dan luar biasa menjadikan sebuah tontonan atau cerita yang menarik”, ujar Antok Jalu, salah satu pembawa acara.

Sesepuh Manunggal Jati, Wahyu Adi Pradana menyampaikan bahwa selain latihan keras, kelompok jathilannya setiap hari berlatih dengan rasa senang.

“Kita latihan dari jam 8 malam sampai setengah 1 setiap hari. Dari 17 padukuhan di Banjarasri, ada 9 kelompok jathilan. Manunggal Jati sendiri berdiri pada tahun 2015. Kami berharap lebih ditingkatkan lagi sarana atau arena untuk pelaku seni. Karena kesenian sangat merakyat, sebagai sesuatu yang mudah dicerna”, ujarnya.

Sementara kelompok Jathilan Haswo Cipto Kawedhar dari Banjaroyo Kalibawang, yang dibina sekaligus disutradarai oleh Windarto menceritakan Legenda Mata Air Sendang Sono.

Menceritakan Den Bagus Samijo yang mendapat petunjuk bahwa sumber bencana kekeringan, karena pusat mata air Perwitosari di bukit Menoreh telah dikuasai oleh roh-roh jahat yang mengakibatkan sumber air yang tidak mengalir.

“Luar biasa penampilan dari kelompok Haswo Cipto Kawedhar, yang menyajikan pertunjukan sesuai dengan temanya yakni pengemasan seni jathilan menjadi pertunjukan yang masih tetap menarik tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang ada”, tutur Warih, sekaligus menutup acara.